Skip to main content

Delusi

Entah kenapa dalam beberapa minggu terakhir ini saya lagi merasa sentimentil. Ada banyak perasaan dan memori lama yang tergugah kembali mengingatkan saya kepada pengalaman hidup di masa lalu. Sebagian besar dari emosi sentimentil ini datang dari proses adaptasi saya dengan budaya dan segala perubahan yang terjadi di diri ini. Terutama pasca kembali ke Indonesia.

Salah satu proses adaptasi terbesar dalam tiga bulan terakhir adalah status dari sebuah employee perusahaan migas raksasa dunia menjadi un-employed. Bisa dibilang ini keputusan terbesar yang pernah saya buat hingga saat ini. Saat keputusan itu diambil, saya harus berusaha ekstra keras untuk meyakinkan ayah dan ibu bahwa saya akan baik baik saja. "Baik baik saja" : sesuatu yang gampang diucapkan tapi susah dijalani pada kenyataannya. Orang tua mana yang tidak menginginkan sekuritas hidup untuk anaknya. Ibarat kubu merah dan kubu biru di ring tinju, option pengen-kerja-di-oil-company-lainnya versus option pengen-lanjut-sekolah-S3 menjadi dilematika pribadi saat ini.


Saya selalu salut dan angkat topi dengan orang orang yang berani keluar dari comfort zone mereka. Orang-orang yang berani melakukan tindakan berbeda tapi nyata. Orang-orang yang ngga ragu buat bikin suatu resolusi baru dalam hidup. Orang-orang yang ngga ingin stagnan pada rutinitas dan dinamika hidup. 

Salah seorang sahabat SMA saya akan melangsungkan pernikahan pada akhir pekan ini. Ayu, namanya. Atau waktu jaman SMA punya nickname Ajoex. Kalau di jaman MiRC (duh jaman kapan itu?) punya ID miss_sarabellum (gara gara terobsesi sama sektretasi walikota Powerpuff Girl). Demi pernikahannya, wanita yang rumahnya tetanggaan sama kelurahan rumah saya ini rela keluar dari kontrak kerja kantornya yang dimana dia akan dikenai kontrak penalti lebih dari 40 juta rupiah. Bukan nominal yang kecil. Tetapi itu tidak ada apa-apanya dibanding dedikasi dia untuk menjadi ibu rumah tangga dari keluarganya yang akan dibina kelak. Menurut dia, menjadi ibu rumah tangga adalah kodrat wanita dan dia siap mengambil resiko meninggalkan semua kegemerlapan dunia kerja. Sesuatu yang bikin saya iri, karena saya belum berani mengambil resiko dalam hidup dan masih selalu ragu dalam bertindak.


Baru saja semalam saya diundang farewell adik kelas Geofisika angkatan 2011. Condro, namanya. Ndodo nama beken di kalangan rekan rekan sejawatnya. Dia bakal pindah jurusan ke FSRD ITB. Orangnya jago ngebom alias jago gawe street-art graffiti (hasil karya dia bisa dilihat dsini). Hasil hasil 'lukisan' dia yang sangat daebak ini sempet membuat saya berfikir betapa bertalentanya orang ini.  Yep, graffiti is not a crime. Rasanya pengen di setiap dinding rumah saya kelak digambar sama dia dengan tema asolole. Ngga pernah menyangka (sekaligus sangat bangga-senang) mendengar berita dia keterima Fakultas Seni Rupa & Desain-nya ITB. Menurut ceritanya, sejak kecil dia memang memiliki passion (dan bakat tentunya) di bidang seni menggambar. Hebatnya dan salutnya sampai detik ini dia belum menyerah dengan cita-citanya. Terbukti dia rela menanggalkan semua yang sudah dia raih di Yogyakarta dalam 1 tahun terakhir. Kadang passion seseorang merupakan medan gravitasi utama yang bisa bikin orang menjadi jauh lebih kuat. Kuat untuk siap mengejar apa yang dia mau. Sesuatu yang ngga gampang, mengingat passion kebanyakan orang akan berubah seiring bertambahnya waktu dan pengalaman hidup. Sesuatu yang bikin saya iri, karena saya belum merasa menemukan passion yang tepat dalam hidup ini. 

Weits, eksis bareng Condro. Kapan lagi artist geofisika bisa masuk blog saya? Siapa tahu 10 tahun dari sekarang potonya semahal karya seninya (Amien ya Robb!).


Siang ini saya bertemu saya Yuki, teman 'lama' di mantan perusahaan yang baru saya tinggalkan. Ditemani suaminya, kita bertiga akhirnya makan bakso di Jalan Kaliurang. She has not changed a bit. Dia masih suka sama kucing, hobi kuliner, nyambung diajak ngobrol. Suaminya, mas Nur, juga setali tiga uang. Seneng rasanya bisa punya teman yang masih bisa menjadi 'teman', no matter what have happened to you in the past. Dia masih menjadi salah satu teman lama di kantor yang sering keep in touch sampai sekarang. Dia punya kemampuan untuk stay true to herself. Sesuatu yang bikin saya iri, karena saya belum merasa bisa terbuka dengan orang lain dan belum bisa menerima mereka apa adanya.

Ungkapan bahwa manusia itu memang rakus mungkin memang benar adanya. Tapi semoga yang ada dalam diri saya adalah rakus untuk selalu belajar, rakus untuk selalu berusaha sabar, dan rakus untuk ngga mudah menyerah menjadi pribadi yang lebih baik.

Comments

  1. hehehe dadi isin aku mas, dungakno sukses koyok sampyan yo mas :D

    ReplyDelete
  2. Kev Pato1:33 AM

    wah salut diriku itu adalah tindakan nyata yg berani, ternyata pengalaman hidup saya masih jauh dri kak fey dan kawan2.. semoga allah selalu meridhoi setiap langkah yang kakak dn teman2 tempuh

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. ah terharu banget bacanya, terharu sama keberanian setiap sosok di artikel ini, condroooo :')

    ReplyDelete
  5. ikut Indonesia mengajar aja mas :)

    ReplyDelete
  6. I never understand how bad shit happens to good people, including me. But after all, there is always a silver lining behind every cloud right? so keep unyuuuuuu and gaul bro! S3 will be a promising future for you!

    ReplyDelete
  7. Ibu Ade4:42 PM

    Fei, I have been thinking to ask you this question. Yuptae? Ha, it is a scotish slank for 'what are you doing"? Soalnya aku perhatikan dirimu beredar dari karoke satu ke karaoke yang lain. Kapan kerjanya nih anak? :) Ah, ternyata sudah punya rencana besar toh dirimu. Baiklah, semoga siap dengan semua konsekuensi atas keputusan yang engkau dipilih. Pindah kwadran itu tidak mudah namun menyenangkan kok!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Why I hate stereotypes ?

I hate stereotypes. Why? Because it will drag you to become narrow minded in the way of your senses to respect a community. Some people called me terrorist, because I am moslem. Some people called me second level residence, because I am Asian. Some people called me nerd, because I don't drink and don't do shit.Stereotyping and generalization are the basic human being’s reaction. It’s subconscious and is triggered and formed based on our background, education, culture, social upbringing, etc. We can’t help it. And the judgment is personal, individual. Stereotyping is practiced by everyone about other communities or segments of the same community.

Although I hate it, stereotypes are inherent to human nature, and for good reason. We are all stereotypical of fire. We don’t touch it because we know it will burn us. We are told never to touch snakes because they are poisonous. So aren’t we being stereotypical when we don’t go near these things? Aren’t we being stereotypical when we …

Tipe Tipe Dosen Penguji Skripsi

Menurut saya menonton sidang skripsi itu seru dan penting. Seru, karena kita jadi bisa melihat muka nelangsa teman teman kita yang sedang asik dibantai para dosen penguji. Tentu sebagai seseorang yang pernah pendadaran, saya mengerti rasanya tekanan saat sidang dimana sejuta umat manusia beberapa dosen menguji hipotesis dan hasil penelitian saya. Ibarat dosen penguji adalah pemain liga voli, maka mahasiswa yang sidang adalah bola volinya: sering dioper sana sini dalam kebimbangan dan kegalauan. Penting buat ditonton karena sidang skripsi mengajarkan kepada kita bagaimana cara ngeles ala orang berpendidikan. Itu juga adalah momen dimana kita berhak memperjuangkan title geophysicist tanpa perlu bayar SPP dan BOP saben semesternya lagi. Selain itu penting juga buat belajar dari kesalahan orang lain saat sidang supaya kesalahan sama ngga terulang.

Namun, namanya lulus sidang skripsi itu susah susah gampang. Salah satu faktor penentunya adalah dosen penguji. Berikut adalah tipe tipe dosen p…

Review Beberapa Sidang Skripsi (Part 1)

Kalau di postingan sebelumnya sempat ngebahas tentang karakter dosen penguji skripsi, kali ini saya mau fokus me-review sidang skripsi yang saya tonton dalam 3 bulan terakhir. 
Memang sejak kembali ke Indonesia, ada sekitar delapan sidang skripsi S1, dimana lima diantaranya saya tonton. Alhamdulillah delapan mahasiswa ini lulus semua ~ ngga ada yang ngulang. Tiga sidang skripsi yang ngga saya tonton adalah sidangnya Kris'GF07, Gondes'GF06 dan Pai'GF06 - dan sumpah nyesel banget. Terutama skripsi Gondes yang konon dia merangkai dan membuat seismogram sendiri, dipasang di gunung Merapi sendiri, datanya diakusisi sendiri, hasilnya diolah sendiri, diinterpretasi sendiri. Bahkan instrumen seismogram yang dia pasang di gunung Merapi katanya uda hilang ditelan material vulkanik letusan besar tahun 2010 kemarin. Ebuset. Itu butuh pengorbanan waktu dan stamina banget lah. He embraced the philosophy of being a geophysicist. Sangat asolole.
Review yang akan saya berikan tentu saja sang…